MAKALAH MEDIA SOSIAL
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perkembangan teknologi yang sangat pesat semakin memudahkan manusia dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Teknologi yang berkembang pesat saat ini adalah teknologi informasi yaitu internet. Internet berdampak positif dan negatif terhadap kehidupan manusia. Selain itu, internet juga telah mengubah cara hidup manusia. Dampak positif dari internet yaitu berbelanja online, berhubungan dengan keluarga, teman, berkenalan dengan orang baru, memperoleh informasi dan hiburan. Selain dampak positif, internet juga berdampak negatif. Elia (2009) menyebutkan bahwa jejaring internet tidak hanya bersifat menghubungkan, melainkan juga dapat menjadi perangkap bagi penggunanya. Hampir 20% pengguna internet terlibat dengan satu atau lebih masalah pengabaian diri, perilaku mengecek dan mengklik terus-menerus, terisolasi secara sosial, menghindari orang lain, hilangnya produktivitas, depresi, problem pernikahan, kecanduan seks, judi, penyalahgunaan internet di tempat kerja, dan kegagalan studi (Elia, 2009).
Berkat teknologi baru seperti internet, segala kebutuhan manusia dapat dipenuhi mulai dari kebutuhan untuk bersosialisasi, kini kehadirannya lebih dimanfaatkan sebagai media sosial oleh masyarakat (Baidu, 2014: 15). Dengan media sosial, kehidupan dunia nyata dapat ditransformasi ke dalam dunia maya. Masyarakat bisa dengan bebas berbagi informasi dan berkomunikasi dengan orang banyak tanpa perlu memikirkan hambatan biaya, jarak dan waktu. Namun dari kemudahan yang ditawarkan media sosial tersebut, terdapat sisi lain yang dapat merugikan penggunanya dan orang-orang disekitarnya.
Kemudahan yang diberikan oleh media sosial membuat penggunanya menjadi cemas dan ketergantungan. Dependency Theory mendefinisikan bahwa ketergantungan berkaitan dengan upaya pemenuhan kebutuhan atau pencapaian tujuan dengan bergantung pada sumber daya lain, dalam hal ini media sosial (Schrock, 2014: 4). Media sosial tersebut dianggap sebagai satu-satunya cara untuk memenuhi kebutuhan. Seolah-olah manusia tidak bisa hidup tanpa bantuannya.
Penggunaan media sosial dapat berbahaya jika media sosial menjadi perhatian utama dari kehidupan manusia sebagai sarana untuk mendapatkan dukungan sosial dan hubungan interpersonal dikarenakan dapat mengarah pada perilaku penyalahgunaan teknologi internet berupa ketergantungan pada media sosial tersebut. Penggunaan media sosial lebih digunakan sebagai sarana penghindaran dan pengobatan diri. Padahal, mengembangkan diri dan membangun hubungan dengan orang lain memerlukan pengujian dan pengalaman melalui kontak langsung agar dapat belajar bagaimana berinteraksi secara baik dengan siapa pun dan dalam konteks sosial apapun.
Kandell (2010) menyatakan bahwa salah satu pengguna media sosial adalah mahasiswa. Mahasiswa lebih rentan menjadi tergantung kepada media sosial. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh APJII, pengguna media sosial dengan intensitas tinggi ialah mereka yang memiliki tingkat pendidikan tinggi, artinya semakin tinggi tingkat pendidikannya, maka semakin sering pula intensitas mahasiswa untuk mengakses media sosial (APJII, 2015). Kesibukan dan aktivitas mahasiswa biasanya membuat mereka menjadi ketergantungan pada internet dan media sosial. Menurut Smahel (2012) mahasiswa Amerika tengah mengidap kecanduan dengan ponsel, media sosial, dan internet dengan gejala mirip kecanduan narkoba dan alkohol. Para peneliti Universitas Maryland telah meminta 200 mahasiswa menghentikan akses ke semua media sosial selama satu hari penuh. Setelah itu muncul tanda-tanda penolakan dan kecemasan tanpa akses media dan jejaring sosial. Susan Moeller, direktur proyek penelitian dan profesor jurnalisme di universitas itu mengatakan, banyak mahasiswa menulis bagaimana mereka membenci terputusnya koneksi dengan media sosial, sama halnya dengan pergi tanpa teman dan keluarga.
Menurut Kandell, mahasiswa adalah kelompok yang terlihat lebih rentan terhadap ketergantungan pada media sosial dibandingkan kelompok masyarakat lainnya. Karena mahasiswa berada pada fase emerging adulthood yaitu masa transisi dari remaja akhir menuju ke dewasa awal dan sedang mengalami dinamika psikologis (Kandell, 2010). Pada fase ini, mahasiswa sedang berproses membentuk identitas diri, berusaha hidup mandiri dengan melepaskan diri dari dominasi ataupun pengaruh orang tua. Mencari makna hidup dan hubungan interpersonal yang intim secara emosional. Emerging adulthood juga memiliki karakter yang kurang stabil seperti hubungan interpersonal, pengelolaan kebutuhan hidup, pengembangan emosional dan kognitif. Ketika individu mengalami kesulitan dalam perkembangannya, maka untuk mengatasi hal tersebut penggunaan media sosial menjadi lebih penting dibandingkan apa yang dilakukan orang lain pada umumnya, karena aktivitas online dapat memperluas dan memperkuat jaringan sosial mereka (Smahel, 2012).
Saat ini, kebanyakan orang mengakses media sosial melalui smartphone. Sosial media menyediakan kenyamanan dalam hal berhubungan antar manusia, dan juga berarti sosial media akan selalu dapat diakses kapanpun, di manapun. Konektivitas yang hiper sepanjang waktu ini dapat memicu masalah kontrol impuls, peringatan dan pemberitahuan konstan yang dapat memengaruhi konsentrasi dan fokus Anda, mengganggu kualitas tidur, dan membuat Anda menjadi budak ponsel.
Platform sosial media dirancang untuk menarik perhatian, membuat Anda tetap online, dan membujuk Anda agar berulang kali memeriksa layar dengan notifikasi-notifikasinya. Namun, sama seperti keterpaksaan judi atau kecanduan nikotin, alkohol, atau obat-obatan, penggunaan sosial media dapat menciptakan keinginan psikologis. Saat Anda menerima reaksi positif terhadap sebuah postingan yang Anda unggah, hal itu dapat memicu pelepasan dopamin di otak, zat kimia yang memberikan sensasi kesenangan.
Hal ini jika dibiarkan berlarut-larut ternyata dapat berbahaya bagi kesehatan mental. Karena pada akhirnya Anda akan menggantungkan banyak aspek dalam diri Anda terhadap penilaian melalui sosial media yang semu dan gampang diubah-ubah. Berikut beberapa dampak negatif sosial media yang perlu Anda sadari dan cegah sejak dini.
BACA JUGA : KUMPULAN PUISI PENDEK
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud media sosial?
2. Bagaimana proses media sosial dapat menjadikan bahaya bagi penggunanya?
3. Bagaimana bahaya media sosial bagi para pelajar beserta dampaknya?
4. Bagaimana cara memperbaiki atau mengurangi penggunaan media sosial untuk kebaikan penggunanya?
C. Tujuan Penulisan
(Pada bagian ini berisi rincian hasil yang akan dicapai dalam proses penulisan)
1. Mengetahui perihal media sosial.
2. Mengetahui bagaimana proses media sosial dapat menjadikan penggunanya seperti kecanduan.
3. Mengetahui cara untuk menaggulangi penggunaan atau mengurangi penggunaa media sosial.
D. Manfaat Penulisan
1. Bagi penulis
Penulis mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan media sosial dan dapat memberikan manfaat sebagai informasi kepada khalayak umum tentang media sosial, mulai dari pengertian, manfaatnya, bahayanya dan hal yang berkaitan dengan itu. Penulis juga dapat melatih keahlian dalam bidang informatika bagaimana ia menyusun laporan dan mencari sumber-sumber artikel sebagaisebuah bahan tentang makalahnya.
2. Bagi pembaca
Pembaca dapat menambahkan wawasan tentang media sosial. Menjadikan pembaca leih selektif dan lebih bijak lagi dalam menanggapi media sosial yang menjadi tren yang sangat dikenal sekarang ini karena sangat membantu.
Komentar
Posting Komentar